Khutbah Jumat : Ibadah Puasa Melatih Kita agar Pandai Bersyukur

Khutbah Jumat : Ibadah Puasa Melatih Kita agar Pandai Bersyukur Jumat, 27 Februari 2026 | 05.24 WIB Reading Time: 4 mins - view: 2309 Admin Oleh: Admin Diunggah oleh Admin Khutbah Jumat : Ibadah Puasa Melatih Kita agar Pandai Bersyukur Foto: freepik Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc, MA, Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta dan Sekretaris II MUI Kota Tangerang Khutbah I .أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ اَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْأَمِينَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ .أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهُ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. أَمَّا بَعْدُ Jamaah Shalat Jumat yang Berlimpah Rahmat dari Allah SWT.. Alhamdulillah, hari ini kita masih dapat menjalankan kewajiban kita selaku hamba Allah, yaitu melaksanakan ibadah puasa dan rangkaian ibadah Ramadhan lainnya, yang salah satu tujuan utamanya adalah agar kita semakin pandai bersyukur, sebagaimana penutup firman Allah SWT yang terkait erat dengan puasa Ramadhan dalam surat Al-Baqarah ayat 185: ... وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ “… agar kalian bersyukur.” Dalam khazanah Alquran, orang yang bersyukur disebut sebagai; pertama, syakir; kedua, syakur. Kata syakir kita dapatkan misalnya di dalam surat Al-A’raf ayat 144, ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Adapun kata syakur bisa kita jumpai antara lain di dalam surat Al-Isra’ ayat 3, saat Allah SWT berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam. Di dalam bahasa Indonesia, kedua kata ini memiliki arti yang sama, yaitu “orang yang bersyukur”. Namun, hakikatnya ada perbedaan makna antara syakir dan syakur. Al-Imam Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi as-Syafi’i (wafat 1072/1073 M) di dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyah-nya menjelaskan: اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَوْجُودِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَفْقُودِ “Syakir adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur atas apa yang tiada.” اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الرَفْدِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الرَّدِّ “Syakir adalah orang yang bersyukur atas pemberian. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur atas penolakan.” اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى النَّفْعِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْمَنْعِ “Syakir adalah orang yang bersyukur saat meraih manfaat. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika tidak memperoleh manfaat.” اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْعَطَاءِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عَلَى الْبِلَاءِ “Syakir adalah orang yang bersyukur saat memperoleh anugerah. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika tertimpa musibah.” اَلشَّاكِرُ الَّذِي يَشْكُرُ عِنْدَ الْبَذْلِ، وَالشَّكُورُ الَّذِي يَشْكُرُ عِنْدَ المَطَلِ “Syakir adalah orang yang bersyukur saat mampu mengerahkan. Sedangkan syakur adalah orang yang bersyukur ketika harus menangguhkan.” Ma’asyiral Mu’minîn rahimakumullah... Di saat sehat, dalam kondisi lapang dan tanpa masalah, kita ber-syakir kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang Allah limpahkan kepada kita. Kemudian kita jadikan berbagai kenikmatan itu sebagai wasilah kita untuk mengabdi dan mendekatkan diri kita kepada-Nya, serta menebar manfaat dan maslahat untuk orang lain. Di saat sakit, dalam kondisi sempit dan ketika menghadapi berbagai macam cobaan, ujian, masalah dan musibah, kita juga tetap ber-syakur kepada Allah SWT. Dengan berbagai macam cobaan, ujian, masalah bahkan musibah itu, kita punya kesempatan yang luas untuk bisa mempraktikkan suatu ibadah yang ganjarannya tiada tara, yaitu sabar: اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Bahkan, bukan hanya pahala sabar yang tiada batas, dengan semua cobaan, ujian, masalah dan musibah yang Allah anugerahkan kepada kita itu, Allah janjikan pula kaffarah atau penghapus atas dosa-dosa yang kita lakukan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ Artinya: “Tidaklah rasa lelah, sakit, kekhawatiran, kesedihan, bahaya dan kesusahan yang menimpa seorang muslim, bahkan sekadar duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibahnya itu.” (HR Al-Bukhari) Demikian jika kita mau memahami lebih dalam, hanya sikap kesyukuran antara syakir dan syakur yang patut kita tampilkan dan persembahkan di hadapan Allah SWT, secara terus menerus, sehingga tiada alasan bagi kita untuk mengeluh. Tiada pula kesempatan untuk kita meratap, apalagi mencaci maki berbagai ketetapan Allah atas diri kita. Itulah bentuk keimanan yang tersirat, sebagaimana Rukun Iman ke-6 yang kita yakini, yang termuat di dalam hadis Jibril yang masyhur berikut ini: قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Artinya: “Jibril berkata: ‘Beritahukan kepada tentang iman. Rasulullah menjawab: (Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, kepad para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab suci-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada Hari Akhir dan engkau beriman kepada ketetapan-Nya, berupa yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim) Zumratal Muslimin rahimakumullah... Al-Imam Ibnu Atha’illah pernah mengingatkan kita di dalam Hikam-nya: مَتٰى اَعْطَاكَ اَشْهَدَكَ بِرَّهُ وَمَتٰى مَنَعَكَ اَشْهَدَكَ قَهْرَه “Ketika Allah memberi untukmu, sesungguhnya Dia sedang memperlihatkan kebaikan-Nya kepadamu. Saat Dia menghalangi pemberian darimu, sesungguhnya Ia tengah memperlihatkan kedigdayaan-Nya di hadapanmu.” Lihatlah, bahwa dalam kedua kondisi di atas, sesungguhnya Allah tengah memanifestasikan ke-Maha Sempurnaan-Nya kepada kita. Maka, dalam keadaan apa pun, tidak ada yang patut kita persembahkan kecuali hanya segala bentuk pujian kepada-Nya, sebagaimana yang Rasulullah ajarkan kepada kita: عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Jika Rasulullah Saw menghadapi hal yang beliau suka, maka beliau akan berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya berbagai kebaikan menjadi sempurna.’ Dan jika beliau menghadapi hal yang tidak disukainya, maka beliau berkata: ‘Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.’” (HR Ibnu Majah) Demikianlah, semoga dengan puasa dan ibadah Ramadhan lainnya, kita termasuk hamba Allah yang berhasil menempa diri untuk menjadi pribadi yang senantiasa syakir dan syakur kepada-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin. .بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ, إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم. أَقُولُ قَوْلِي هذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوه...إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم Khutbah II أَلْحَمْدُ للهِ ذِى الْعَظَمَةِ وَالْجَلَال, أَلَّذِى قَدَّرَ الْأَعْمَارَ وَحَدَّدَ الآجَال, وَأَمَرَنَا بِالْعِبَادَةِ وَصَالِحِ الْأَعْمَال. أَشْهَدُ اَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه, جَعَلَ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَة, وَمَكْسَبَ زَادٍ لِلْحَيَاةِ الْفَاخِرَة, لِلْخَلَاصِ مِنَ الْأَهْوَالِ الْقَاهِرَة. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه, أَلَّذِى حَذَّرَنَا مِنَ الدُّنْيَا دَارِ الدّوَاهِى, وِمَكَانِ الْمَعَاصِى وَالْمَلَاهِى. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْكِرَام, وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامَ, وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَيُّهاَ النَّاس, إِتَّقوُا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه, وَرَاقِبُوهُ مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاه. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِه: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظَيم. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد, كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم, فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد. أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات, أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات, يِا قَاضِيَ الْحَاجَات. رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة, وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار. عِبَادَ الله, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان, وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي,يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم, وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون. أَقِمِ الصَّلَاة. Halaman 11 dari 16

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Khutbah Jumat : Ibadah Puasa Melatih Kita agar Pandai Bersyukur"

Posting Komentar